Nasional

Mahasiswa HI FISIP UI Dalami Keadilan Kelautan dan Perlindungan ABK

Mahasiswa HI FISIP UI Dalami Keadilan Kelautan dan Perlindungan ABK
Mahasiswa HI FISIP UI Dalami Keadilan Kelautan dan Perlindungan ABK
Daftar Isi
  1. Apa Fokus Utama Kajian Keadilan Kelautan di FISIP UI?
    1. Aspek Hukum dan Sosial
  2. Bagaimana Dampak Illegal Fishing terhadap Stabilitas Kelautan?
  3. Mengapa Perlindungan ABK Menjadi Prioritas Akademik?
    1. Rekomendasi Kebijakan
  4. Implikasi Jangka Panjang bagi Diplomasi Indonesia

DEPOK, Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kajian mendalam mengenai keadilan kelautan global, dengan fokus utama pada pemberantasan illegal fishing dan penguatan perlindungan bagi Anak Buah Kapal (ABK). Kegiatan akademik ini bertujuan untuk mengurai kompleksitas hukum internasional serta dampak sosial ekonomi dari praktik penangkapan ikan ilegal di perairan internasional.

Inisiatif ini mencerminkan peran strategis UI dalam mengkaji isu-isu kontemporer yang melampaui batas negara. Melalui pendekatan interdisipliner, para mahasiswa menganalisis bagaimana regulasi maritim internasional diterapkan di lapangan serta tantangan yang dihadapi negara-negara pesisir dalam menegakkan kedaulatan laut.

Apa Fokus Utama Kajian Keadilan Kelautan di FISIP UI?

Kajian keadilan kelautan ini berfokus pada dua pilar utama, yaitu penegakan hukum terhadap aktivitas illegal fishing dan pemenuhan hak-hak pekerja maritim atau ABK.

Mahasiswa HI FISIP UI menyoroti bahwa illegal fishing tidak hanya merugikan sektor perikanan, tetapi juga mengancam keamanan pangan global dan stabilitas ekonomi negara pesisir. Di sisi lain, perlindungan ABK menjadi isu krusial karena banyak dari mereka yang bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi, termasuk risiko perbudakan modern, upah yang tidak layak, dan keselamatan kerja yang terabaikan.

Aspek Hukum dan Sosial

Pendekatan hukum internasional menjadi landasan utama analisis. Para peneliti muda ini menelaah konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan bagaimana negara anggota gagal atau berhasil mengimplementasikan ketentuan tersebut. Selain itu, dimensi sosial dari eksploitasi tenaga kerja maritim juga dibahas secara kritis, mengaitkannya dengan standar hak asasi manusia internasional.

Bagaimana Dampak Illegal Fishing terhadap Stabilitas Kelautan?

Praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU) memiliki dampak multidimensi yang merusak ekosistem laut dan tatanan hukum maritim.

Data menunjukkan bahwa kapal-kapal yang melakukan illegal fishing sering beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara lain tanpa izin, menyebabkan penurunan stok ikan secara drastis. Hal ini memicu konflik antarnegara dan memperlemah kerja sama regional dalam pengelolaan sumber daya laut.

Aspek Isu Deskripsi Dampak
Ekonomi Kerugian pendapatan negara pesisir dan ketidakadilan bagi nelayan lokal.
Lingkungan Penurunan keanekaragaman hayati laut dan kerusakan ekosistem terumbu karang.
Sosial Eksploitasi ABK, perbudakan modern, dan pelanggaran hak buruh maritim.
Hukum Lemahnya penegakan hukum internasional dan tumpang tindih yurisdiksi.

Mengapa Perlindungan ABK Menjadi Prioritas Akademik?

Perlindungan ABK diangkat sebagai prioritas karena kelompok ini sering kali menjadi korban paling rentan dalam rantai pasokan perikanan global.

Banyak ABK yang berasal dari negara berkembang ditipu oleh agen perekrutan dan dipaksa bekerja di kapal-kapal asing dengan kontrak yang tidak adil. Mahasiswa HI FISIP UI menekankan pentingnya transparansi dalam industri perikanan dan akuntabilitas perusahaan pelayaran. Mereka juga mengusulkan mekanisme pelaporan yang lebih aman bagi para pekerja maritim agar suara mereka dapat didengar oleh otoritas terkait.

Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan hasil kajian, para mahasiswa merumuskan beberapa rekomendasi kebijakan, antara lain:

  • Penguatan sistem pemantauan kapal (VMS) oleh negara pesisir.
  • Standarisasi kontrak kerja ABK sesuai konvensi ILO.
  • Kerja sama intelijen maritim antarnegara untuk berbagi data ilegal fishing.
  • Pendidikan hukum maritim bagi nelayan lokal agar memahami hak dan kewajibannya.

Implikasi Jangka Panjang bagi Diplomasi Indonesia

Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam penegakan hukum kelautan global. Kajian yang dilakukan mahasiswa HI FISIP UI ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan nasional dalam merumuskan posisi diplomasi Indonesia di forum-forum internasional seperti IMO (International Maritime Organization) dan FAO (Food and Agriculture Organization).

Dengan memahami dinamika keadilan kelautan, Indonesia dapat memperkuat perannya sebagai pemimpin regional dalam isu-isu maritim. Selain itu, kajian ini juga membuka ruang diskusi lebih lanjut tentang bagaimana teknologi seperti satelit dan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk mendeteksi aktivitas illegal fishing secara lebih efektif dan efisien.

Melalui pendekatan akademis yang kritis dan berbasis data, mahasiswa UI membuktikan bahwa isu kelautan bukan sekadar soal lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial, hak asasi manusia, dan tatanan hukum global yang adil bagi semua pihak.

Berita Lainnya

Tinggalkan Komentar